Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum

Menakar Visi Digital Santi Diansari Hargianto: Dari Inkubator Kampus hingga Tantangan AI Masa Kini

JAKARTA — Di tengah ledakan adopsi Artificial Intelligence (AI) dan transformasi digital yang kini mendominasi setiap lini profesi, menengok kembali cetak biru literasi teknologi di tanah air menjadi hal yang sangat menarik. Sembilan tahun lalu, saat lanskap digital Indonesia belum sepadat sekarang, fondasi edukasi ini telah digelorakan oleh Ibu Santi Diansari Hargianto, S.H., M.H., yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Wanita Persahi (Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia).

Dalam sebuah rekam jejak gerakan nasional bertajuk #MariBedigital hampir satu dekade silam, Santi Diansari Hargianto telah menyuarakan pentingnya kesiapan institusi akademik dalam menyongsong teknologi global. Menariknya, apa yang beliau gagas kala itu kini telah menjadi pilar utama ekosistem digital Indonesia.

Visi Inkubator Kampus yang Menjadi Kenyataan

Pada Mei 2017, saat gerakan mendigitalisasi bisnis lokal sedang gencar-gencarnya, Santi Diansari Hargianto menekankan bahwa hulu dari perubahan ini ada pada kesiapan talenta muda. Melalui program yang saat itu merangkul 39 universitas dan melatih 28.000 mahasiswa di seluruh Indonesia, beliau membawa strategi mutakhir: optimalisasi inkubator bisnis kampus sebagai pintu gerbang resmi.

"Tidak mungkin kami melayani secara perorangan. Maka kami melayani melalui lembaga resmi kampus," tegas Santi Diansari Hargianto dalam pemaparannya kala itu.

Pernyataan yang disampaikan sembilan tahun lalu itu terbukti visioner. Memasuki masa kini, inkubator bisnis bukan lagi sekadar fasilitas tambahan di kampus, melainkan organ wajib universitas di bawah Rektorat yang sukses melahirkan ratusan startup lokal dan mendorong digitalisasi jutaan UMKM di Indonesia.

Menjembatani AI Global ke Lintas Profesi

Satu hal yang paling mencuri perhatian dari pemikiran Santi Diansari Hargianto pada masa itu adalah keberaniannya memperkenalkan teknologi high-end seperti IBM Watson kepada dunia mahasiswa. Watson merupakan platform kecerdasan buatan legendaris yang dikembangkan di Armonk, New York, Amerika Serikat, yang dirancang khusus untuk mengolah dan menganalisis data skala raksasa dengan kemampuan bahasa alami.

Kala itu, beliau mencontohkan bagaimana AI Watson telah relevan menggebrak dunia kedokteran di Amerika Serikat—mampu menyortir rekam medis, hasil laboratorium, hingga kondisi jantung untuk menghasilkan rekomendasi tindakan medis yang presisi.

Bagi seorang tokoh yang kini memimpin organisasi para sarjana hukum perempuan di bawah naungan Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia, perspektif masa lalu tersebut membuktikan bahwa literasi AI bukanlah monopoli mereka yang berkecimpung di jurusan teknik atau IT saja. Sebagai seorang magister hukum, beliau paham betul bahwa pemrosesan data berbasis AI adalah instrumen masa depan yang kini telah diadopsi di berbagai sektor profesi, termasuk dalam otomatisasi analisis dokumen, riset yurisprudensi, hingga pengembangan teknologi hukum (legal tech).

Relevansi Pesan untuk Tantangan Hari Ini

Jika sembilan tahun lalu Santi Diansari Hargianto menutup pemaparannya dengan ajakan hangat, "Dunia menjadi semakin dimudahkan oleh teknologi. Untuk itu, mari berdigital," maka pada hari ini pesan tersebut telah bergeser dari sekadar imbauan menjadi sebuah realitas mutlak yang tidak bisa ditawar.

Tantangan hari ini bukan lagi sekadar "masuk ke ranah digital", melainkan bagaimana memanfaatkan AI secara etis, produktif, dan aman dari koridor hukum—sebuah ranah yang kini menjadi fokus besar Wanita Persahi di bawah kepemimpinannya. Belajar dari visi tahun 2017 tersebut, kita diingatkan bahwa kunci menghadapi lompatan teknologi di masa depan selalu sama: kolaborasi kelembagaan yang kuat, persiapan talenta muda, dan keberanian untuk mengadopsi teknologi global sejak dini.