Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum

Sosok & Teladan · Edisi HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Santi Diansari Hargianto

Dari podium taekwondo dunia, mimbar perlindungan anak, hingga panggung keadilan hukum bagi perempuan Indonesia.

Santi Diansari Hargianto
Santi Diansari Hargianto, S.H., M.H.
Ketua Umum Wanita PERSAHI Perkumpulan Wanita Sarjana Hukum Indonesia · Periode 2025–2030
14
Rekor MURI atas namanya
6th Dan
Sabuk hitam instruktur taekwondo
50rb+
Relawan digerakkan dalam Typing Challenge
4
Dekade mengabdi lintas bidang

Ada orang yang mengisi kemerdekaan dengan satu peran, dan ada yang memilih mengisinya dengan banyak peran sekaligus. Santi Diansari Hargianto adalah contoh yang kedua: mantan juara dunia taekwondo, mantan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, penggerak program kemanusiaan lintas benua bersama IBM Indonesia, pemegang 14 Rekor MURI, dan kini Ketua Umum Wanita PERSAHI yang mengawal kesadaran hukum bagi perempuan Indonesia. Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, jejaknya adalah pengingat bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar usai — ia hanya berpindah medan.

01

Dari Arena Taekwondo ke Panggung Dunia

Lahir di Jakarta pada 5 September 1968, masa muda Santi diwarnai disiplin dan semangat olahraga bela diri. Ia memulai dari pencak silat, meraih medali perak di kejuaraan nasional yunior pada 1979, sebelum menekuni taekwondo secara serius. Jalan itu membawanya ke podium demi podium: emas di Kejuaraan Nasional Taekwondo Senior (1984), gelar Atlet Terbaik sekaligus medali emas di PON XI (1985) yang membuatnya dinobatkan sebagai Bintang PON XI versi harian Kompas, lalu puncaknya, gelar juara dunia di kelas terbang pada Kejuaraan Dunia Taekwondo di Berkeley, Amerika Serikat (1986), disusul gelar juara nasional di Australian National Championship, Melbourne (1988).

Namun bagi Santi, kemenangan di atas matras bukan soal medali semata. Prestasi, katanya, penting — tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan pengalaman itu diwariskan untuk melahirkan generasi yang lebih baik. Prinsip inilah yang membuatnya, sejak 1989 hingga hari ini, terus aktif sebagai instruktur bersabuk hitam Dan VI, wasit nasional taekwondo, dan mentor bagi atlet-atlet muda — bahkan pernah dipercaya sebagai penasihat pembangunan pusat pelatihan taekwondo POPKI atas kerja sama Indonesia dan Korea Selatan.

Prestasi itu penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa melahirkan generasi baru yang lebih baik.
02

Dari Anak ke Kemanusiaan

Perjalanan Santi kemudian melangkah ke ranah sosial. Pada 2007, ia dipercaya Presiden Republik Indonesia sebagai Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dari sinilah ia mulai dikenal luas sebagai sosok yang lantang memperjuangkan hak anak, khususnya mereka yang termarginalkan — mulai dari advokasi pendampingan anak korban kekerasan, mediasi isu anak di forum internasional PBB di Jenewa dan Mongolia, hingga koordinasi program penghijauan sepuluh juta pohon yang dibawanya ke Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali (2007).

Tak lama berselang, ia bergabung dengan IBM Indonesia sebagai Country Manager Corporate Citizenship/CSR, menghubungkan teknologi dengan misi kemanusiaan selama lebih dari satu dekade. Program-program yang digagasnya menyentuh banyak bidang: literasi digital, pemberdayaan perempuan pesisir, hingga akses teknologi bagi penyandang disabilitas.

Program yang membekas

Salah satu gagasannya yang paling dikenang adalah gerakan alih aksara buku ke huruf Braille dan buku audio bagi penyandang tunanetra — melibatkan lebih dari 50.000 relawan yang mengetik ulang naskah demi naskah. Gerakan ini membuahkan puluhan ribu buku Braille dan mengantarkan IBM Indonesia meraih penghargaan program relawan terbaik di antara 98 negara tempat IBM beroperasi pada 2014. Bagi Santi, ini bukan sekadar rekor, melainkan cara sederhana membuka pintu literasi yang setara bagi semua anak bangsa.

Peresmian Kampung Teknologi Nelayan, Hari Ibu 2018
Tangerang, 17 Desember 2018

Santi Diansari Hargianto (kanan) mendampingi Ketua Umum Dharma Pertiwi, Ibu Nanny Hadi Tjahjanto, dan para tamu kehormatan saat peresmian Kampung Teknologi Nelayan pada peringatan Hari Ibu 2018 di Kampung Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

03

Mendorong UKM Perempuan Naik Kelas ke Dunia Digital

Jauh sebelum istilah "transformasi digital" menjadi jargon umum, Santi sudah menyerukannya kepada pelaku UKM perempuan di seluruh Indonesia. Dalam sebuah forum pemberdayaan kewirausahaan yang digelar bersama Kementerian Koperasi dan UKM pada 2018, ia menegaskan bahwa teknologi sudah ada di depan mata dan pelaku usaha perempuan harus berani membangun aplikasi pemasaran sendiri, mencontoh fenomena bisnis berbasis aplikasi seperti Gojek dan Grab yang kala itu tengah mengubah wajah ekonomi rakyat.

Ajakan itu bukan sekadar wacana. Sejak 2013, Santi memimpin rangkaian roadshow kewirausahaan bersama OJK, HIPMI, KADIN, dan Kementerian Koperasi dan UKM ke berbagai penjuru negeri — menjangkau 36 universitas dengan sekitar 28.000 mahasiswa, sekaligus merambah keluarga nelayan dan warga di wilayah perbatasan. Filosofinya sederhana namun tajam: ketika petani gagal panen atau nelayan sulit mendapat ikan, ekonomi keluarga tetap harus berdiri tegak karena istri dan anggota keluarga lain telah memiliki usaha sendiri.

Komitmennya di jalur kewirausahaan ini turut diakui negara. Pada Januari 2015, ia dilantik sebagai Pengurus Bidang Wirausaha Baru Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) dalam pelantikan Pengurus Pusat yang dipimpin langsung oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Istana Wakil Presiden RI.

Pelantikan Pengurus Pusat DEKRANAS 2015
Jakarta, 15 Januari 2015

Santi Diansari Hargianto, S.H., M.H. dilantik sebagai Pengurus Bidang Wirausaha Baru DEKRANAS pada Pelantikan Pengurus Pusat DEKRANAS yang dipimpin Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Istana Wakil Presiden RI.

Bukan hanya melatih, tapi mendampingi

Pendekatan Santi selalu disesuaikan dengan kebutuhan lapangan — apakah itu pelatihan pengolahan ikan, menjahit, atau pengemasan produk agar tampil lebih modern tanpa kehilangan cita rasa tradisionalnya. Baginya, produk boleh sederhana, tetapi kemasan dan cara memasarkannya harus mampu bersaing di etalase digital yang sama luasnya dengan pasar dunia.

Momentum lain yang menegaskan posisi Santi sebagai penghubung teknologi dan pemberdayaan UKM terjadi pada Kamis, 18 Mei 2017, ketika Gedung Graha Pos Indonesia di Jalan Banda No. 30, Bandung, dipadati lebih dari 600 pelaku UKM dan startup dalam gelaran Gerakan Nasional Mari Berdigital bertajuk "Bangkitkan Ekonomi Lokal dengan Go-Digital." Acara yang diprakarsai bDigital Indonesia bersama Kementerian Koperasi dan UKM, serta didukung Midtrans dan Indosat Ooredoo ini, menghadirkan tiga arena pembelajaran sekaligus: Conference Arena untuk diskusi arah ekonomi digital nasional, Tech & Digital Arena untuk pelatihan pemasaran digital dan e-commerce, dan Business Growth Arena untuk pendampingan branding, legalitas, serta pengelolaan finansial UKM.

Sebagai Country Director CSR IBM Indonesia, Santi tampil dalam sesi tanya jawab memaparkan teknologi-teknologi kunci yang bisa menjadi akselerator bagi UKM agar mampu bersaing di pasar digital yang terus berkembang — sejalan dengan seruan Rama Dhonanto, Managing Director PT bDigital Asia Indonesia, agar pelaku UKM berani dan siap berdigital menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Turut hadir Agus Muharram, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, serta Soni Jiferson, Ketua Pelaksana Gerakan Nasional Mari Berdigital, menjadikan forum ini simbol kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan komunitas digital untuk mendorong UKM Indonesia naik kelas.

Konferensi pers Gerakan Nasional Mari Berdigital, Bandung 2017
Gedung Graha Pos Indonesia, Bandung · 18 Mei 2017

Rama Dhonanto, Agus Muharram, Santi Diansari, dan Soni Jiferson berfoto bersama seusai konferensi pers Gerakan Nasional Mari Berdigital — gelaran yang turut diramaikan oleh Lazada, Tech in Asia, Daily Social, TDA Bandung, Indigo Creative Nation, dan lebih dari 30 booth bisnis digital lainnya.

Forum pemberdayaan UKM perempuan 2018
Jakarta, 17 Mei 2018

Santi Diansari Hargianto (paling kanan) berpartisipasi sebagai pembicara mewakili IBM Indonesia dalam forum pemberdayaan UKM perempuan, mendorong transformasi digital dan kewirausahaan berbasis teknologi.

04

14 Rekor MURI untuk Indonesia

Tak banyak orang Indonesia yang bisa menorehkan prestasi seperti Santi: 14 Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) tercatat atas namanya. Rekor-rekor ini lahir dari beragam aksi sosial berskala besar — mulai dari trauma healing bagi puluhan ribu anak korban gempa Sumatra Barat yang ia koordinasikan sebagai Ketua Posko Perlindungan Anak Gempa (2009), pagelaran seni dan edukasi yang melibatkan ribuan peserta anak-anak di pelosok negeri, hingga aksi ribuan anak menulis surat untuk Presiden RI di atas daun kelapa hutan saat program literasi dan donasi teknologi di Lanny Jaya, Papua.

Setiap rekor yang ia cetak bukan sekadar angka. Di baliknya ada pesan yang konsisten: bahwa kerja sosial bisa dilakukan dengan cara yang kreatif, melibatkan banyak pihak, dan berdampak luas hingga ke pelosok yang jarang tersentuh. Santi membuktikan bahwa mengisi kemerdekaan bukan hanya tugas negara, melainkan juga inisiatif warga yang peduli dan berani bergerak lebih dulu.

05

Perempuan dan Hukum

Kiprah Santi tidak berhenti di olahraga dan aksi sosial — ia juga menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar Sarjana Hukum dari IBLAM Institute Jakarta dan melanjutkan ke jenjang Magister Hukum. Bekal inilah yang mengantarkannya menjabat sebagai Ketua Umum Wanita PERSAHI (Perkumpulan Wanita Sarjana Hukum Indonesia), organisasi yang menghimpun sarjana hukum perempuan dan istri sarjana hukum sejak Kongres pertamanya di Yogyakarta pada 1961. Ia pertama kali terpilih memimpin organisasi ini pada Kongres 2019 untuk periode 2019–2025, dan kembali dikukuhkan memimpin untuk periode 2025–2030 — kini menaungi sekitar 2.500 anggota aktif yang tersebar di 18 provinsi.

Pengukuhan periode keduanya berlangsung dalam Kongres IX Wanita PERSAHI, 15 Februari 2025, di Wisma Elang Laut TNI AL, Menteng, Jakarta Pusat, yang mengusung tema "Wanita PERSAHI Mengawal Reformasi Hukum melalui Budaya Sadar Hukum Menuju Indonesia Emas 2045". Pengesahannya ditandai penandatanganan Surat Keputusan serta penyerahan pataka organisasi oleh Ketua Sidang Paripurna, Diana Bachtiar, S.H. Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., dianugerahi jabatan Ketua Dewan Pengawas Wanita PERSAHI — sebuah penegasan sinergi dua organisasi perempuan terbesar ini dalam mengawal reformasi hukum menuju visi Indonesia Emas 2045.

Pengukuhan Ketua Umum Wanita PERSAHI periode 2025-2030
Jakarta, 15 Februari 2025

Santi Diansari Hargianto, S.H., M.H., resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum Wanita PERSAHI Periode 2025–2030 pada Kongres IX Wanita PERSAHI di Wisma Elang Laut TNI AL, Jakarta.

Di bawah kepemimpinannya, Wanita PERSAHI aktif menggelar diskusi publik dan edukasi hukum, termasuk Focus Group Discussion tentang hukum waris yang bertujuan meningkatkan kesadaran hukum perempuan Indonesia atas hak-haknya. Ia juga mendorong sinergi dengan organisasi perempuan lain seperti KOWANI, mengangkat isu-isu strategis mulai dari hukum waris, hak perempuan dalam perkawinan, hingga perlindungan hukum berbasis gender — sekaligus memperluas jejaring organisasi ke berbagai daerah, dari program ketahanan pangan anak bersama Pramuka hingga sinergi dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita di tingkat provinsi.

Dua agenda yang mengiringi Kongres IX

Di sela kongres, Wanita PERSAHI turut menunjukkan dua wajah kepeduliannya: mengunjungi bazar UMKM mitra binaan sebagai bentuk dukungan nyata bagi pemberdayaan ekonomi perempuan, sekaligus membuka ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk berkarya dan didengarkan — sejalan dengan Konvensi Hak Anak di Jenewa dan Undang-Undang Perlindungan Anak Tahun 2002 beserta perubahannya pada 2004.

Kemerdekaan harus diisi dengan kesadaran hukum yang berpihak pada keadilan, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan.Santi Diansari Hargianto, S.H., M.H.
06

Mengisi 81 Tahun Kemerdekaan

Bagi Santi, kemerdekaan bukanlah hadiah yang cukup dirayakan, melainkan ruang yang harus terus diisi dengan perbuatan. Ia mengisi ruang itu dengan berbagai peran sekaligus: sebagai mantan atlet dan pelatih taekwondo, pemimpin sosial, penggerak kesadaran hukum, sekaligus ibu dari empat orang anak dan istri dari Laksamana Pertama TNI (Purn.) Hargianto.

Saat Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan, kisah Santi menjadi pengingat bahwa perjuangan hari ini tidak lagi dilakukan di medan perang, melainkan di ruang-ruang yang jauh lebih senyap: mencerdaskan anak bangsa, memberdayakan masyarakat yang tertinggal, melindungi mereka yang lemah, dan menjaga martabat perempuan Indonesia di hadapan hukum.

07

Lintasan dalam Bingkai

Jejak Langkah

Empat Dekade Lintas Medan Juang

1985
Emas PON XI & dinobatkan Bintang PON XI versi harian Kompas atas prestasi taekwondo.
1986
Juara Dunia kelas terbang, Kejuaraan Dunia Taekwondo, Berkeley, Amerika Serikat.
2007
Diangkat Presiden RI sebagai Wakil Ketua KPAI, mengawal perlindungan hak anak Indonesia.
2010
Menjabat Country Manager CSR IBM Indonesia, memimpin program teknologi untuk kemanusiaan selama satu dekade.
2013
Memulai roadshow kewirausahaan bersama OJK, HIPMI, KADIN, dan Kemenkop UKM ke 36 universitas, menjangkau 28.000 mahasiswa.
2014–2016
Typing Challenge: menggerakkan 50.000+ relawan mengalihaksarakan buku ke Braille dan audio bagi tunanetra.
2017
Tampil dalam konferensi pers Gerakan Nasional Mari Berdigital di Bandung, mendorong 600+ pelaku UKM dan startup untuk go-digital.
2018
Menyerukan digitalisasi UKM perempuan dalam forum nasional bersama Kementerian Koperasi dan UKM.
2019
Terpilih pertama kali sebagai Ketua Umum Wanita PERSAHI, periode 2019–2025.
2025
Dikukuhkan kembali memimpin Wanita PERSAHI periode 2025–2030 pada Kongres IX, Jakarta, 15 Februari 2025.

Warisan Aksi untuk Negeri

Jika generasi muda bertanya, "Apa arti merdeka hari ini?" — kisah Santi Diansari Hargianto bisa menjadi salah satu jawabannya. Merdeka berarti berani berbuat, berani berbagi, dan berani mencipta; meninggalkan jejak yang bermanfaat, seperti 14 Rekor MURI yang ia torehkan, program sosial yang ia gerakkan, dan ruang keadilan hukum yang terus ia perjuangkan bagi perempuan Indonesia.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka · Sosok & Teladan