Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum
Sebuah wawancara eksklusif tentang integritas, kepekaan nurani, dan masa depan perempuan hukum Indonesia
8 Februari 2026 · Redaksi Wanita Persahi · 51 Views
Sore itu, di sudut Rahayu Kitchen yang teduh di kawasan Senopati, percakapan mengalir jauh melampaui basa-basi biasa. Ketua Dewan Penasihat Wanita Persahi, Ibu Hendrawati Yuripersana Tobing, SH., MH., MKn., duduk santai sambil membuka lapis demi lapis pemikirannya tentang apa yang membuat sebuah organisasi bisa terus hidup dan relevan setelah lebih dari enam dekade. Jawabannya, katanya, terletak pada satu gagasan sederhana namun dalam yang beliau namai "Kesadaran Kehidupan".
Bagi Ibu Hendra — begitu ia akrab disapa — gelar sarjana hukum yang disandang seorang perempuan bukan sekadar bukti penguasaan pasal demi pasal. Ia memandangnya sebagai amanah yang jauh lebih besar. Integritas seorang praktisi hukum, menurutnya, baru terasa utuh bila kecakapan profesional berjalan seiring dengan ketakwaan spiritual. Kematangan seorang sarjana hukum, tegasnya, semestinya tidak berhenti pada logika hukum semata, melainkan juga tumbuh bersama kepekaan nurani.
"Wanita sarjana hukum tidak hanya harus sadar hukum, tapi juga harus sadar kehidupan." — Hendrawati Yuripersana Tobing
Frasa "Sadar Kehidupan" itu, ia jelaskan, sebetulnya adalah cara untuk menggambarkan tanggung jawab besar mempersiapkan generasi penerus — mereka yang dibekali ilmu yang mumpuni sekaligus ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Harapannya sederhana: agar perempuan tidak kehilangan kodratnya, baik sebagai perempuan, anak, istri, saudara, maupun sahabat, sembari tetap membangun generasi masa depan yang berkualitas, beriman, dan berintegritas.
Perbincangan lalu bergeser ke masa lampau. Wanita Persahi — akronim dari Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia — lahir pada 26 November 1961 dan kemudian resmi bergabung sebagai anggota federasi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada 1964, memperluas jejaring perjuangannya lintas organisasi perempuan di tanah air. Ibu Hendra menyempatkan diri memberi penghormatan kepada para sesepuh pendiri yang telah lebih dulu berpulang, di antaranya Ibu Imron Rosidi, Ibu Prof. Subekti, dan Ibu Kadarusman — nama-nama yang menurutnya menjadi fondasi bagi apa yang kini dijalankan generasi penerus.
Warisan para pionir itu, ia melanjutkan, kini diteruskan lewat organisasi yang tetap setia pada kegiatan sosial tanpa pamrih — sebuah semangat yang menurutnya justru menjadi kekuatan Wanita Persahi bertahan begitu lama.
"Kami saling mengisi dengan ilmu masing-masing sesuai hakikatnya sebagai wanita sarjana hukum untuk meningkatkan harkat, martabat, dan kesadaran hukum masyarakat Indonesia." — Hendrawati Yuripersana Tobing
Ditanya soal rahasia eksistensi organisasi, Ibu Hendra tidak ragu menjawab: jaringan. Ia bercerita bagaimana hubungan baik yang dirajut selama puluhan tahun — bukan dalam hitungan bulan atau tahun, melainkan seumur perjalanan karier — membuat Wanita Persahi bisa bergerak lincah, mulai dari berkoordinasi dengan lembaga internasional seperti PBB hingga menggalang dukungan untuk kegiatan sosial tanpa harus terbebani kendala pendanaan.
Ia pun menyisipkan pujian untuk kepemimpinan Ibu Santi Diansari Hargianto, Ketua Umum Wanita Persahi, yang menurutnya menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjalankan roda organisasi.
"Ukurannya bukan materi; kalau ukurannya materi pasti sudah putus di tengah jalan." — Hendrawati Yuripersana Tobing, merujuk pada ketulusan Ibu Santi
Pernyataan reflektif ini sejatinya merupakan satu keping dari rangkaian agenda besar yang dihadiri jajaran Pengurus Pusat dan Daerah Wanita Persahi — momentum yang menandai refleksi milad ke-64 organisasi sekaligus aksi kemanusiaan bertajuk "Women Pray for the World Peace: An End to Conflict, Violence, and War".
Wawancara ini sendiri berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Rahayu Kitchen, Senopati, Jakarta Selatan. Waktunya dipilih dengan sengaja: menjelang Bulan Suci Ramadhan 1447 H, sekaligus sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi almarhumah Hj. Tetty Herawati (Tety Subroto). Seluruh rangkaian acara dikemas dalam dialog reflektif yang menghubungkan peran profesional perempuan hukum dengan tanggung jawab sosial yang lebih luas.
Sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara yang sudah terbiasa hidup mandiri sejak masa kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ibu Hendra punya pesan yang lugas untuk perempuan muda: jangan ragu berkiprah di Wanita Persahi. Ia paham betul bahwa itu berarti berbagi waktu dengan urusan rumah tangga, namun ia meyakini organisasi ini adalah ladang investasi jaringan dan ilmu yang tidak akan pernah didapat di bangku kuliah mana pun. Dan pada akhirnya, katanya, pengabdian yang tulus itulah rahasia untuk tetap bersemangat dan bermanfaat bagi sesama — tanpa mengenal batas usia.
Ditulis berdasarkan wawancara langsung, dilengkapi rujukan arsip resmi Wanita Persahi dan KOWANI untuk verifikasi data historis organisasi.
×
×
×
×
×
×
×
×