Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum
Jika hari ini kita begitu lazim melihat anak muda memadukan kebaya kutubaru dengan celana jeans belel, sneakers kasual, atau dengan santainya mengenakannya saat kongko di kedai kopi, ingatan kolektif kita patut ditarik mundur ke sebuah titik balik kultural di jantung Jakarta. Tepat di sepanjang ruas Sudirman hingga Bundaran HI, sekira 3.000 perempuan lintas generasi berkumpul bukan semata untuk jalan santai mingguan, melainkan menyalakan sumbu pergerakan besar: mengawal kebaya menuju takhta Warisan Budaya Tak Benda dunia ke UNESCO.
Kala itu, aspal Car Free Day (CFD) yang identik dengan deru sepatu lari dan seragam jersey neon mendadak disulap menjadi panggung adibusana rakyat paling akbar. Mulai dari titik kumpul depan Gedung Kemendikbudristek, gelombang wanita melangkah percaya diri, berjoget ria, dan menghempaskan sekat-sekat kaku yang selama ini membelenggu pakaian tradisional.
Menyaksikan lanskap mode hari ini, pawai 3.000 kebaya empat tahun lalu terbukti bukan sekadar seremoni musiman. Momen tersebut adalah fondasi keberanian generasi saat ini untuk meredefinisi kebaya sebagai bagian integral dari gaya busana harian (streetwear).
“Merawat tradisi tak selamanya harus di balik etalase kaca museum. Cara paling terhormat menjaga warisan leluhur agar tetap bernapas adalah membawanya pulang ke jalanan dan merayakannya bersama.”