Menyemai Harapan, Memetik Masa Depan: Visi Ibu Santi untuk Wanita Persahi
JAKARTA, wanitapersahi.or.id — Di sebuah sudut hangat Rahayu Kitchen, Senopati, Ketua Umum Wanita Persahi, Ibu Santi, duduk berbagi cerita. Bukan sekadar tentang urusan organisasi, melainkan tentang rasa syukur, doa, dan mimpi besar bagi para srikandi hukum Indonesia. Melalui tutur kata yang lembut namun penuh keyakinan, beliau membedah arah langkah organisasi menyongsong tahun 2026.

Sebuah Pertemuan Berasaskan Doa
Bagi Ibu Santi, setiap pertemuan Wanita Persahi haruslah memiliki akar spiritual yang kuat. Hari itu, Sabtu (7/2), kebersamaan dimulai dengan satu niat tulus: mendoakan almarhumah Ibu Teti Herawati Subroto, sosok pemimpin yang telah banyak berjasa bagi organisasi.
“Kita bersama-sama berkumpul tadi pagi di Masjid Daarut Tauhiid, menundukkan kepala dan memohon agar Ibu Teti ditempatkan di tempat sebaik-baiknya di sisi Yang Maha Kuasa,” ujar Ibu Santi dengan nada penuh takzim.
Namun, doa beliau tidak berhenti di sana. Di tengah riuh rendah isu dunia yang kian mengerikan, Ibu Santi juga menitipkan permohonan agar Indonesia tetap dalam lindungan-Nya, dan keluarga besar Wanita Persahi selalu diberkahi kebahagiaan serta kesehatan.
Resolusi 2026: Memekarkan Semangat di Seluruh Nusantara

Setelah menutup lembaran program kerja 2025, Ibu Santi menatap 2026 dengan optimisme tinggi. Beliau membocorkan tiga kata kunci yang akan menjadi ruh organisasi ke depan:
Pemekaran, Pengembangan, dan Regenerasi.
Target terdekatnya cukup ambisius namun terukur. Di bulan suci Ramadhan mendatang, beliau berencana mengesahkan kepengurusan di lima wilayah DKI Jakarta—dari Selatan hingga Pusat—serta terus mendorong pemekaran di berbagai wilayah di seluruh Nusantara. “Kita ingin terus melangkah bersama menyongsong masa depan yang gemilang menuju Indonesia Emas 2045,” tegas beliau.
Merangkul Gen Z dan Era Digital
Satu hal yang menarik dari visi Ibu Santi adalah keberaniannya merangkul perubahan zaman. Beliau menyadari bahwa estafet kepemimpinan harus segera diberikan kepada tangan-tangan muda. Di tahun 2026, Wanita Persahi akan membuka pintu lebar-lebar bagi Generasi Z, para sarjana hukum muda, dan remaja untuk bergabung.
Beliau ingin organisasi ini tidak hanya kaya akan pengalaman senior, tapi juga lincah di era teknologi. “Kita harus beradaptasi dengan kebutuhan AI dan digitalisasi. Itu adalah pokok utama kita menuju Indonesia Emas,” tuturnya. Kepada para wanita muda, beliau memberikan dorongan semangat berdasarkan pengalamannya saat menempuh studi di Australia: jangan pernah takut untuk melangkah, karena dedikasi adalah modal utama.
Konteks Peristiwa: Dari Masjid Hingga Rapat Kecil

Seluruh pemikiran ini terangkum dalam rangkaian kegiatan yang khidmat. Dimulai dengan doa bersama di Masjid Daarut Tauhiid Senopati, para pengurus melanjutkan agenda dengan rapat kerja kecil sambil santap siang di Rahayu Kitchen. Agenda ini menjadi bukti nyata bagaimana Wanita Persahi menyeimbangkan antara penghormatan kepada sejarah (mendoakan sesepuh), menyikapi isu kemanusiaan global, dan merancang strategi masa depan yang konkret.
Redaksi Wanita Persahi