Dunia Butuh “Sentuhan” Kita: Mengapa Kepemimpinan Perempuan Itu Penting
Pernahkah kita memperhatikan satu hal sederhana saat acara keluarga atau kegiatan warga berlangsung?
Tanpa perlu dikomando, biasanya perempuanlah yang pertama bergerak. Membagi makanan, memastikan semua kebagian, membereskan yang tercecer, hingga memastikan tak ada yang terlewat. Tidak ada instruksi resmi, tidak ada rapat panjang. Namun semuanya berjalan tertib.

Bagi Tjut Sjahnaz Zahirsjah, S.H., M.H., momen kecil itu bukan sekadar kebiasaan sosial. Itu adalah cerminan karakter kepemimpinan perempuan yang sesungguhnya: inisiatif tanpa instruksi.
Dalam dialognya di Pro3 News, Advokat PERADI dan Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang juga Ketua Bidang HKI Wanita Persahi ini menyampaikan pandangan yang lugas dan membumi. Ia tidak berbicara tentang teori kesetaraan yang abstrak, melainkan tentang realitas sehari-hari: perempuan adalah penjaga keseimbangan di mana pun ia berada.
Dan dunia hari ini—yang penuh kompleksitas, risiko hukum, dan tantangan tata kelola—semakin membutuhkan keseimbangan itu.
Ketelitian yang Menjaga Sistem
Sifat teliti perempuan kerap dianggap sepele. Padahal dalam praktik organisasi dan dunia profesional, ketelitian adalah fondasi stabilitas.
Banyak persoalan besar lahir bukan karena visi yang keliru, tetapi karena detail yang diabaikan. Dokumen yang tak diperiksa ulang. Risiko hukum yang tak diantisipasi. Prosedur kecil yang disepelekan.
“Kalau ada yang kurang beres, perempuan biasanya langsung bergerak memperbaiki tanpa perlu diminta,” ujar Ibu Tjut.
Inilah yang ia sebut sebagai kepemimpinan pencegahan (preventive leadership)—kepemimpinan yang bekerja sebelum masalah membesar.
Perempuan terbiasa mengelola banyak peran sekaligus. Dari rumah tangga hingga ruang profesional, kebiasaan itu membentuk sensitivitas terhadap detail dan dampak jangka panjang. Dalam sistem yang kompleks, kemampuan seperti ini bukan pelengkap—melainkan mekanisme pengaman.
UMKM Perempuan: Kreatif, Tangguh, Namun Rentan
Indonesia memiliki jutaan pelaku UMKM perempuan. Mereka kreatif, adaptif, dan mampu membaca peluang pasar digital. Produk berkembang, promosi agresif, jejaring luas.
Namun ada satu celah yang sering terabaikan: perlindungan merek dalam rezim HKI.
Sebagai praktisi HKI, Tjut Sjahnaz memberi peringatan yang sangat relevan:
“Jangan sampai merek yang sudah kita bangun dengan berdarah-darah justru dirampas orang lain secara hukum karena kita lalai mendaftarkannya.”
Merek bukan sekadar nama. Ia adalah identitas usaha, reputasi yang dibangun bertahun-tahun, sekaligus aset ekonomi yang bernilai hukum hingga sepuluh tahun dan dapat diperpanjang, dilisensikan, bahkan diwariskan.
Tanpa perlindungan hukum, kreativitas menjadi rapuh.
Di sinilah pemberdayaan perempuan harus dimaknai lebih komprehensif. Tidak cukup hanya pelatihan produksi dan pemasaran. Literasi hukum—khususnya di bidang HKI—harus menjadi arus utama.
Karena kemandirian ekonomi sejati bukan hanya soal peningkatan omzet, tetapi tentang perlindungan aset dan keberlanjutan usaha.
“No Data, No Talk”: Kompetensi adalah Kekuatan
Perjalanan karier Tjut Sjahnaz sendiri menjadi contoh nyata. Pada era 1990-an, ketika dunia perbankan masih sangat didominasi laki-laki, ia berhasil menembus posisi strategis hingga dipercaya menjabat Vice President.
Rahasianya bukan sekadar keberanian berbicara, melainkan penguasaan substansi.
“Jangan cuma jago bicara, tapi harus jago baca data dan situasi.”
Kesetaraan, menurutnya, tidak dibangun dari slogan. Ia dibangun dari kompetensi yang terukur. Dari pemahaman regulasi. Dari kemampuan membaca angka dan risiko.
Ketika perempuan menguasai substansi, ia tidak lagi hadir sebagai simbol keberagaman, melainkan sebagai pengambil keputusan yang diperhitungkan.
Pengetahuan hukum, khususnya di bidang HKI dan regulasi bisnis, menjadi alat negosiasi yang kuat. Dengan literasi yang baik, perempuan tidak mudah dirugikan dan mampu berdiri sejajar dalam ruang-ruang strategis.
Mitra Strategis Peradaban
Kepemimpinan perempuan bukanlah tentang menyaingi laki-laki. Ini bukan kompetisi gender.
Ini tentang keseimbangan perspektif.
Dunia membutuhkan ketegasan sekaligus empati.
Membutuhkan strategi besar sekaligus perhatian pada detail.
Membutuhkan ambisi pertumbuhan sekaligus integritas tata kelola.
Perempuan hadir sebagai mitra strategis dalam membangun sistem yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Dari pengelolaan ekonomi keluarga, penggerak komunitas, hingga pengambil keputusan di organisasi, perempuan membawa kombinasi kepedulian dan profesionalitas.
Dan di tengah dunia yang semakin kompleks, kombinasi inilah yang menjadi kebutuhan mendesak.
Sentuhan yang Menentukan Masa Depan
Dunia tak lagi cukup tanpa kepemimpinan perempuan.
Bukan karena perempuan lebih unggul, tetapi karena sistem yang sehat membutuhkan keseimbangan. Kepemimpinan yang hanya bertumpu pada satu sudut pandang akan timpang.
Perempuan, dengan ketelitian, literasi hukum, dan keberanian mengambil posisi, adalah penjaga nilai dalam sistem yang kerap tergoda oleh kepentingan sesaat.
Masa depan bangsa ini tidak hanya dibangun oleh mereka yang paling keras bersuara,
tetapi oleh mereka yang konsisten menjaga aturan, melindungi hak, dan bekerja dengan integritas.
Dan di sanalah sentuhan perempuan menemukan maknanya—
bukan sekadar membantu, tetapi menentukan arah.
#KepemimpinanPerempuan #PerempuanBerdaya #HKI #UMKMPerempuan #WanitaPersahi
Referensi:
Artikel ini terinspirasi dari dialog bu Tjut Shahnaz di Pro3 News