Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum

Isra Mi’raj: Ujian Iman dan Peneguhan Ketaatan kepada Allah

Isra Mi’raj sebagai Ujian Iman kepada yang Gaib

Peristiwa Isra Mi’raj menguji secara langsung prinsip al-iman bil-ghaib. Perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha dalam satu malam, merupakan peristiwa khariqul ‘adah yang berada di luar jangkauan hukum alam dan rasio manusia. Keimanan kepada peristiwa ini menuntut sikap tasdiq dan taslim terhadap wahyu, sebagaimana ciri orang bertakwa yang beriman kepada yang gaib (QS. al-Baqarah: 3).

Peneguhan Tauhid dan Kekuasaan Allah SWT

Isra Mi’raj menampakkan kemahakuasaan Allah dalam mengatur ruang dan waktu. Seluruh batasan kosmik tunduk kepada kehendak-Nya. Menerima kebenaran peristiwa ini berarti meneguhkan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah: bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan hanya kepada-Nya ketaatan mutlak diarahkan.

Shalat sebagai Poros Ketaatan dan Mi‘raj Spiritual

Kewajiban shalat difardhukan secara langsung di hadirat Allah SWT, bukan melalui perantara di bumi. Hal ini menempatkan shalat sebagai ‘amud ad-din sekaligus mi‘raj ruhani bagi orang beriman. Secara fiqh, ia adalah kewajiban yang paling fundamental; secara spiritual, ia adalah sarana perjumpaan eksistensial antara hamba dan Rabb-nya.

Otoritas Wahyu di Atas Logika

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa dalam epistemologi Islam, wahyu memiliki otoritas tertinggi, sementara akal berfungsi sebagai instrumen pemahaman, bukan sebagai hakim atas kebenaran ilahiah. Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه yang membenarkan peristiwa ini tanpa ragu mencerminkan iman yang telah mencapai derajat taslim total kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keteguhan Rasulullah ﷺ dalam Menghadapi Ujian

Peristiwa ini terjadi pada masa yang penuh cobaan dalam kehidupan Nabi ﷺ. Setelah mengalami berbagai penolakan dan tekanan, Isra Mi’raj menjadi bentuk tasliyah rabbaniyyah yang meneguhkan hati beliau. Keteguhan dan kesabaran Nabi dalam menghadapi cemoohan kaum Quraisy menjadi teladan bahwa iman yang kokoh melahirkan ketahanan moral dan spiritual.

Penyucian Hati sebagai Syarat Kedekatan dengan Allah

Proses penyucian qalbu Rasulullah ﷺ sebelum Mi’raj menunjukkan bahwa perjalanan menuju kedekatan ilahi mensyaratkan kebersihan batin. Tazkiyatun nafs menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas iman dan ibadah, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan tradisi keilmuan para ulama.

Implikasi bagi Kehidupan Umat

Isra Mi’raj mengandung pesan aktual bagi umat Islam untuk memperkuat iman kepada yang gaib, menempatkan shalat sebagai pusat kehidupan, menundukkan akal pada otoritas wahyu, serta meneladani kesabaran dan keteguhan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, peristiwa ini tidak berhenti sebagai narasi sejarah, melainkan menjadi pedoman hidup dalam meneguhkan ketaatan total kepada Allah SWT.

http://wanitapersahi.or.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*