Hukum dan “Kesadaran Kehidupan”: Refleksi Filosofis bu Hendrawati Yuripersana Tobing di Usia 64 Tahun Wanita Persahi
JAKARTA, wanitapersahi.or.id — Di balik keanggunan suasana Rahayu Kitchen, Senopati, tersimpan sebuah pemikiran besar tentang masa depan perempuan hukum di Indonesia. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Ketua Dewan Penasihat Wanita Persahi, Ibu Hendrawati Yuripersana Tobing, SH., MH., MKn., membedah rahasia ketangguhan organisasi yang telah berdiri lebih dari enam dekade melalui sebuah konsep fundamental yang beliau sebut sebagai“Kesadaran Kehidupan”.

Inti Pemikiran: Melampaui Teks Hukum
Bagi Ibu Hendra, gelar sarjana hukum bagi seorang perempuan adalah amanah yang melampaui sekadar penguasaan pasal-pasal kaku. Integritas sejati seorang praktisi hukum harus berakar pada keseimbangan antara kecakapan profesi dan ketakwaan spiritual. Beliau menekankan bahwa kematangan seorang sarjana hukum harus dibarengi dengan kepekaan nurani.
“Wanita sarjana hukum tidak hanya harus sadar hukum, tapi juga harus sadar kehidupan,” tegas Ibu Hendra.
Beliau menjelaskan bahwa “Sadar Kehidupan” adalah tanggung jawab besar untuk mempersiapkan generasi penerus dengan pembekalan ilmu yang mumpuni sekaligus ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini bertujuan agar perempuan tidak melupakan kodratnya—baik sebagai perempuan, anak, istri, saudara, maupun sahabat—guna menciptakan generasi masa depan yang berkualitas, beriman, dan berintegritas.
Menjaga Estafet Sejarah Sejak 1961
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Hendra membawa kita kembali ke akar sejarah Wanita Persahi (Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia) yang didirikan pada 27 November 1961. Beliau memberikan penghormatan tinggi kepada para tokoh pendiri (sesepuh) yang telah mendahului, di antaranya Ibu Imron Rosidi, Ibu Prof. Subekti, dan Ibu Kadarusman.

Perjuangan para pionir ini kini diteruskan melalui organisasi yang bergerak murni pada kegiatan sosial tanpa pamrih.
“Kami saling mengisi dengan ilmu masing-masing sesuai hakikatnya sebagai wanita sarjana hukum untuk meningkatkan harkat, martabat, dan kesadaran hukum masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Jaringan dan Dedikasi: Kunci Eksistensi
Kekuatan Wanita Persahi terletak pada luasnya jaringan (networking) dan “jam terbang” para anggotanya. Ibu Hendra menceritakan bagaimana hubungan baik yang dirajut selama puluhan tahun memudahkan organisasi dalam menjalankan misi besar, termasuk koordinasi dengan lembaga internasional seperti PBB maupun mencari dukungan untuk kegiatan sosial tanpa harus terbebani kendala finansial.

Beliau juga memuji kepemimpinan Ibu Santi yang dinilainya memiliki dedikasi luar biasa.
“Ukurannya bukan materi; kalau ukurannya materi pasti sudah putus di tengah jalan,” ujar Ibu Hendra, merujuk pada ketulusan Ibu Santi yang tetap memimpin dengan semangat tinggi meski dalam kondisi fisik yang menantang.
Konteks Peristiwa: Sebuah Misi Kemanusiaan dan Spiritual
Pernyataan mendalam ini merupakan bagian dari rangkaian agenda besar organisasi yang dihadiri oleh jajaran Pengurus Pusat dan Daerah Wanita Persahi. Kegiatan ini berfokus pada refleksi milad ke-64 organisasi sekaligus aksi kemanusiaan bertajuk
“Women Pray for the World Peace: An End to Conflict, Violence, and War”.
Wawancara khusus ini dilakukan pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Rahayu Kitchen, Senopati, Jakarta Selatan. Momentum ini dipilih sebagai upaya menyuarakan pesan perdamaian dunia, menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 H, serta memberikan penghormatan atas dedikasi almarhumah Hj. Tetty Herawati (Tety Subroto). Seluruh rangkaian acara dikemas melalui dialog reflektif yang menghubungkan peran profesional perempuan hukum dengan tanggung jawab sosial.
Pesan untuk Generasi Muda
Sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara yang telah mandiri sejak masa kuliah di FHUI, Ibu Hendra berpesan agar wanita muda tidak ragu untuk berkiprah di Wanita Persahi. Meski harus berbagi waktu dengan urusan rumah tangga, beliau menegaskan bahwa organisasi ini adalah ladang investasi jaringan dan ilmu yang tidak didapatkan di bangku sekolah formal. Bagi beliau, pengabdian yang tulus adalah rahasia untuk tetap bersemangat dan bermanfaat bagi sesama tanpa mengenal batas usia.
Redaksi Wanita Persahi