Perempuan Indonesia, Penjaga Moral dan Nurani Bangsa

Pengurus Wanita Persahi berfoto bersama dalam ucapan Selamat Hari Pahlawan 10 November 2025.
Perempuan Indonesia, Penjaga Moral dan Nurani Bangsa
Puncak Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 – Ruang Malahayati, Kowani
Dalam suasana khidmat penuh semangat kebangsaan, Sekretaris Jenderal Wanita Persahi, Ibu Sri Kuati, S.H., M.H., bersama Ketua Umum Kowani yang juga Ketua Dewan Pengawas Wanita Persahi, Ibu Naniek Hadi Tjahjanto, menghadiri Puncak Peringatan Hari Pahlawan 2025 di Ruang Malahayati, Gedung Kowani, Jakarta (10/11/2025).
Momentum ini menjadi refleksi mendalam tentang peran perempuan Indonesia dalam menjaga moralitas, kebijaksanaan, dan nurani bangsa. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai perjuangan para pahlawan perempuan tetap menjadi sumber inspirasi bagi gerak langkah Wanita Persahi di seluruh Indonesia.

Ibu Sri Kuati dan Ibu Naniek Hadi Tjahjanto menghadiri Puncak Peringatan Hari Pahlawan 2025 di Ruang Malahayati, Gedung Kowani, Jakarta.
Gerakan Moral Nasional Perempuan Indonesia
Gerakan Moral Nasional Perempuan Indonesia tumbuh dari keyakinan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai ketika perempuan berada di garis depan dalam menjaga akhlak dan kasih sayang. Inisiatif ini menegaskan lima nilai dasar perjuangan perempuan Indonesia yang menjadi pijakan moral dalam membangun peradaban:
-
Kemanusiaan dan Kehidupan — perempuan sebagai penjaga harmoni sosial dan alam.
-
Literasi dan Pengetahuan — perempuan sebagai pendidik bangsa dan penuntun peradaban.
-
Seni, Budaya, dan Spiritualitas — perempuan sebagai penghidup nilai keindahan dan kebijaksanaan.
-
Sosial dan Keberlanjutan — perempuan sebagai penggerak harmoni antar generasi.
-
Mandatori Moral Bangsa — perempuan sebagai penjaga nurani kebangsaan dan nilai luhur.
Kelima nilai ini menjadi panduan moral bagi perempuan Indonesia untuk berperan aktif di bidang hukum, pendidikan, sosial, budaya, dan politik, sekaligus menguatkan karakter bangsa.
“Perempuan bukan sekadar pendamping sejarah, tetapi penggerak moral bangsa. Dari keteguhan hati perempuan, lahir keberanian dan perubahan.”
– Ibu Santi Dinsari Hargianto, S.H., M.H., Ketua Umum Wanita Persahi
Renungan Hari Pahlawan 2025
Peringatan Hari Pahlawan mengajak seluruh bangsa untuk menundukkan kepala dengan hormat mengenang jasa para pejuang. Namun, perjuangan sesungguhnya tidak hanya terjadi di medan perang. Nilai-nilai kepahlawanan juga tumbuh di ruang pendidikan, di rumah, serta di organisasi — tempat di mana perempuan menyalakan api peradaban dan menanamkan nilai kemanusiaan.
Kita meneladani pahlawan-pahlawan perempuan yang abadi dalam sejarah bangsa:
Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Martha Christina Tiahahu, Keumalahayati, Nyi Ageng Serang, Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan), Maria Walanda Maramis, Rohana Kudus, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Fatmawati, Andi Depu, dan Opu Daeng Risaju.
Mereka menjadi simbol keberanian, kebijaksanaan, dan cinta tanah air — memperjuangkan pendidikan, kehormatan, serta hak perempuan sebagai insan merdeka.

Ibu Sumartini, 98 tahun, pejuang perempuan dengan pemikiran jernih dan suara lantang.
Tongkat Perjuangan Itu Kini di Tangan Kita
Estafet perjuangan kini berada di tangan perempuan masa kini. Senjata mereka bukan lagi bambu runcing, melainkan akhlak, ilmu, dan kepedulian.
Gerakan Moral Nasional Perempuan Indonesia adalah panggilan sejarah untuk melanjutkan semangat para pahlawan dengan tindakan nyata: menegakkan keadilan, memperjuangkan kesetaraan, dan menjaga martabat kemanusiaan.
“Semangat kepahlawanan tidak berhenti di masa lalu. Ia hidup di setiap langkah perempuan yang berani, berilmu, dan berintegritas.”
– Ibu Santi Dinsari Hargianto, S.H., M.H., Ketua Umum Wanita Persahi
Perempuan Indonesia bukan sekadar saksi sejarah, tetapi penulis bab baru bagi perjalanan bangsa yang beradab, berilmu, dan berkeadilan.
Salam hormat dan kebanggaan,
Salam Wanita Persahi.